Follow by Email

Rabu, 15 Agustus 2012

BENTUK TINDAK TUTUR ILOKUSI DALAM PEMENTASAN DRAMA “PADA SUATU HARI” OLEH MAHASISWA ANGKATAN 2008


BENTUK TINDAK TUTUR ILOKUSI DALAM PEMENTASAN DRAMA “PADA SUATU HARI” OLEH MAHASISWA ANGKATAN 2008
Oleh:
M Bagus Priyo Sambodo
Prodi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia
ABSTRAK
Pementasan drama merupakan tontonan yang menarik. Karena dapat memberikan pendidikan sekaligus menghibur para penontonya. Berdasarkan latar belakang tersebut permasalahan yang diangkat dalam penelitian ini yaitu jenis tindak tutur ilokusi apa saja yang digunakan dalam pementasan drama yang dipentaskan oleh mahasiswa semester 8. Tujuan penelitian ini mendeskripsi jenis tindak tutur ilokusi yang digunakan dalam pementasan drama. Dengan penelitian ini, penulis memperoleh manfaat pengetahuan tentang tindak tutur ilokusi dari segi jenis. Selain itu diharapkan dengan  adanya penelitian ini dapat memberikan manfaat terhadap perkembangan bahasa dalam bidang pragmatik pada umumnya dan khususnya tentang kajian tindak tutur terutama kajian tindak tutur ilokusi.
Pendekatan yang digunakan adalah pendekatan deskriptif kualitatif. Metode pengumpulan data yang digunakan yaitu teknik simak dan teknik catat. Data penelitian ini diperoleh dari tuturan para pemain dalam pementasan drama.
Berdasarkan hasil analisis data, jenis tuturan ilokusi dalam pementasan drama terdapat lima jenis tindak ilokusi. Kelima jenis tindak ilokusi adalah tindak tutur representatif meliputi menyatakan, mengakui, melaporkan, menunjukkan, dan menyebutkan Direktif meliputi mengajak, meminta, menyuruh, memohon, menyarankan, menantang, memaksa, dan memberikan aba-aba. Komisif meliputi menawarkan, menyatakan kesanggupan, dan berjanji. Ekspresif meliputi mengucapkan terima kasih, mengkritik, menyalahkan, mengeluh, dan memuji, serta isbati yaitu melarang.
Saran penulis sampaikan bagi pemakai bahasa, peneliti tindak ilokusi, dan pembaca yang tertarik dengan kajian pragmatik, khususnya mahasiswa Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia yang tertarik dengan wacana komik kajian tindak tutur khususnya tindak tutur ilokusi, diharapkan hasil penelitian ini dapat dijadikan sebagai  bahan acuan untuk penelitian selanjutnya terutama yang berhubungan dengan tindak tutur ilokusi. 
Kata kunci: drama pada suatu hari, ilokusi


PENDAHULUAN
Dialog antar pemain dalam pementasan drama yang berjudul “Pada Suatu Hari” yang pernah dipentaskan oleh mahasiswa angkatan 2008 dalam mengikuti mata kuliah penyuradaraan sangat menarik untuk dikaji. Hal ini karena merupakan tindak praktek sosio-budaya yang tidak hanya memiliki makna literal, tetapi juga makna nonliteral, atau yang disebut oleh Grice (1975) dalam Imron Rosidi sebagai natural meaning dan non-natural meaning. Selain itu juga dapat memberikan pendidikan sekaligus dapat menghibur para penontonya.
 Tindak tutur merupakan perilaku berbahasa seseorang yang berupa tindak ujaran seseorang dalam situasi atau posisi ujaran tertentu. Tuturan dalam percakapan menghasilkan sejumlah makna tutur, baik secara konvensional maupun secara konversasional. Tuturan konvensional adalah tuturan yang makna tuturannya dapat dipahami secara lahiriah, sesuai makna tersurat pada tuturan yang dituturkan. Tuturan konversasional adalah tuturan tersirat yang makna tuturannya dipahami melalui konteks dan kekuatan-kekuatan yang berhubungan dengan tuturan yang dituturkan. Kekuatan yang dimaksud adalah kemampuan tuturan tersebut untuk melakukan tindakan sesuatu, seperti ‘meminta, berjanji, tawaran, dsb.’ Kekuatan atau daya tutur itu disebut ilokusi yang sekaligus mengubah status tuturan konversasional yang berwujud implikatur.
Tindak ilokusi adalah tindak tutur untuk menyatakan sesuatu. Tindak jenis ini memiliki konsep yang berkaitan dengan proporsi kalimat. Kalimat atau tuturan dalam hal ini dipandang sebagai suatu kesatuan yang terdiri dari dua unsur, yaitu subjek/topik dan predikat (Nababan, dalam I Dewa Putu Wijana dan Muhammad Rohmadi, 2011:  21 – 22). Fungsi tindak tutur ilokusi dialog drama yang berjudul “Pada Suatu Hari” adalah (1) fungsi ilokusi representatif  antara lain; menyatakan, melaporkan, mengakui, menyebutkan, menunjukkan (2) fungsi ilokusi direktif antara lain; mengajak, meminta, menyuruh, memohon, menyarankan, menantang, memaksa, memberi aba-aba (3) fungsi ilokusi komisif  antara lain; menyatakan kesanggupan, menawarkan sesuatu, dan berjanji (4) fungsi ilokusi ekspresif antara lain; berterima kasih, mengkritik, menyalahkan, mengeluh dan memuji (5) fungsi isbati melarang. Berdasarkan alas an dia atas, peneliti tertarik untuk meneliti ilokusi dalam pementasan drama “Pada Suatu Hari” yang dipentaskan oleh mahasiswa Prodi Bahasa Indonesia angkatan 2008. Pada bagian pembahasan akan dipaparkan mengenai ilokusi yang ada dalam pementasan.

KAJIAN PUSTAKA DAN LANDASAN TEORI
            Penelitian ini menggunakan teori-teori pragmatik sebagai landasan teori, dalam kajian pustaka akan menjelaskan secara rinci pengertian pragmatik dan tindak tutur lokusi, ilokusi dan perlukosi.
Kajian pragmatik merupakan kajian yang menarik. Hal ini terbukti dengan masih banyaknya penelitian tentang pragmatik khususnnya kajian tentang tindak tutur. Adapun beberapa pustaka yang relevan untuk mendasari penelitian ini meliputi beberapa hasil penelitian tentang tindak tutur antara lain, Leech (1983).
Leech (1983) dalam Muhammad Rohmadi menyatakan bahwa pragmatik sebagai cabang ilmu bahasa yang mengkaji penggunaan bahasa berintegrasi dengan tata bahasa yang terdiri atas fonologi, morfologi, sintaksis dan semantik.
Wijana (1996) dalam bukunya yang berjudul  Dasar-dasar Pragmatik membahas mengenai situasi tutur, tindak tutur dengan berbagai jenis yang menyangkut ilmu pragmatik. Dalam buku ini Wijana menganut Leech dalam aspek-aspek situasi tutur. Buku ini juga menjelaskan jenis-jenis tindak tutur. Buku ini digunakan sebagai bahan pustaka. Buku ini juga digunakan sebagai bahan pustaka.
Sementara itu, Nelly Yani BP dalam skripsinya yang berjudul “Tindak Tutur Ilokusi Dalam Wacana Komik Di Majalah Annida” ditemukan pemakaian tindak tutur yaitu tindak tutur representatif, direktif, ekspresif, komisif, dan deklarasi yang didasarkan pada tindak tutur menurut Searle. Jenis-jenis tindak tutur tersebut membentuk satu komposisi atau susunan.
 Searle (1975) dalam Imron Rosidi, M.Pd juga mengklasifikasikan ilokusi ke dalam lima kategori, yaitu ilokusi asertif/representatif, ilokusi direktif, ilokusi komisif, ilokusi ekspresif, dan ilokusi deklaratif. Dalam tulisan ini penulis tidak menyajikan secara menyeluruh semua hasil analisis data, namun hanya beberapa yang dianggap penting.
Persamaan penelitian terdahulu dengan penelitian yang dilakukan oleh peneliti yaitu sama-sama mengkaji tentang tindak  tutur, akan tetapi penelitian ini dimaksudkan untuk melengkapi penelitian-penelitian sebelumnya, tentunya dengan menggunakan teknik atau metode penelitian yang berbeda. Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan oleh Nelly Yani BP, peneliti merasa tertarik akan kajian tentang tindak tutur, karena itu peneliti menggambil kajian tentang tindak tutur yang dikhususkan dalam pementasan drama “Pada Suatu Hari” oleh mahasiswa angkatan 2008.

METODE PENELITIAN
Penelitian ini difokuskan pada ilokusi percakapan dalam pementasan drama yang berjudul “Pada Suatu Hari” karya Arifin C. Noor. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif. Pemilihan metode tersebut, yaitu dengan mempertimbangkan mengenai data-data yang akan diperoleh berupa kata-kata, karena berkaitan dengan tindak tutur. Teknik yang digunakan dalam mengumpulkan data yaitu teknik simak dan teknik catat. Percakapan yang mengandung tindak ilokusi dalam rekaman pementasan drama “Pada Suatu Hari” dicatat. Kemudian tindak tutur yang telah tergolong dalam tindak tutur ilokusi dianalilis dengan triangulasi data. Analisis data ini terjadi berupa perbandingan data yang berupa tuturan tokoh yang terkumpul dalam naskah dengan teori tentang tindak tutur. Data penelitian ini berbentuk penggunaan bahasa (language used), baik dalam bentuk pergelaran ketoprak, maupun berasal dari rekaman ketoprak. Sumber data penelitian ini adalah rekaman pementasan drama.

PEMBAHASAN
Berdasarkan tindak ilokusi dalam pementasan drama “Pada Suatu Hari”, dapat ditemukan lima jenis tindak ilokusi.  Kelima jenis tindak ilokusi ini adalah tindak tutur representatif, tindak tutur direktif, tindak tutur komisif, tindak tutur ekspresif, dan tindak tutur deklarasi/isbati.       
1.        Tindak Tutur Representatif
Pada penelitian ini ditemukan tindak ilokusi representatif menyatakan, mengakui, melaporkan, menunjukkan,  dan menyebutkan. Adapun yang termasuk dalam jenis tindak ilokusi representatif dalam wacana komik di majalah Annida dapat dijelaskan pada penggalan tuturan berikut.
a.       Tindak Tutur Representatif Menyatakan 
Tuturan menyatakan adalah tuturan yang sesuai dengan kenyataan. Hal ini dapat dijelaskan pada data tuturan berikut ini.
KONTEKS : KAKEK DAN NENEK SEDANG BERDUAAN DI RUANG TAMU
Adegan 1

Nenek                : “Tidak mungkin sayang, kau tahu saya sedikit flu karena pesta beberapa hari yang lalu?”
Kakek                : “O iya, saya baru ingat sekarang”

          Dalam tuturan menyatakan yang dituturkan oleh nenek kepada kakek  ini memunyai maksud bahwa ia sedang sakit flu karena kelelahan ketika mengikuti pesta beberapa hari yang lalu. Kebenaran tuturan representatif menyatakan tersebut jika apa yang dituturkan sesuai dengan kenyataannya, dalam hal ini mitra tutur yaitu kakek tau betul keadaan nenek yang sebenarnya.
b.      Tindak Tutur Representatif Melaporkan
           Tuturan melaporkan merupakan tuturan yang juga menuturkan sesuai dengan keadaan yang sebenarnya. Ini terdapat pada tuturan berikut.
KONTEKS  : NENEK DAN KAKEK SEDANG BERDUAAN, LALU SURTI DATANG MEMBERI TAU JIKA ADA TAMU
Adegan 4
Surti              : “Ada tamu, nyonya besar.”
Nenek           : “Siapa?”
            Tindak ilokusi representatif melaporkan tersebut ditunjukkan pada tuturan Surti “Ada tamu nyonya besar”, maksudnya ia melaporkan kepada nenek bahwa ada tamu. Kebenaran tindak ilokusi representatif melaporkan ini adalah apa yang dituturkan sesuai dengan kenyataan, dalam hal ini penutur pada saat itu melaporkan kepada mitra tutur bahwa ada tamu.
c.       Tindak Tutur Representatif Mengakui
Tuturan mengakui merupakan tuturan yang menyatakan keadaan yang sebenarnya, mengakui untuk diri sendiri dan orang lain akan sesuatu hal.
KONTEKS : KETIKA SURTI MENYAJIKAN MINUMAN KESUKAAN NYONYA WENAS (JANDA)

Adegan 8
Janda              : “Siapa yang memilih minuman ini?”
Surti               : “Saya sendiri nyonya”
           Tindak ilokusi representatif mengakui tersebut di tunjukkan pada tuturan “Saya sendiri nyonya” pada tuturan ini penutur mengakui kepada mitra tutur bahwa penutur sendirilah yang berinisiatif menyajikan minuman kesukaan nyonya Wenas (Janda).
d.      Tindak Tutur Representatif Menyebutkan
           Tindak tutur representatif menyebutkan adalah tindak tutur yang mengikat penuturnya akan kebenaran atas apa yang dituturkan dengan tuturan yang berisi menyebutkan, misalnya mengucapkan nama benda atau orang dan sebagainya. Tuturan representatif menyebutkan terdapat pada kutipan wacana di bawah ini.
KONTEKS    : NENEK MENGINTROGASI SURTI TERKAIT MINUMAN YANG DISAJIKANNYA KEPADA JANDA
Adegan 12
Nenek             : “Sejak tadi pagi, sudah berapa kali kamu berbohong?”
Surti               : “Belum sekaipun nyonya.”
Nenek             : ” Akui saja, toh tak akan mengurangi penghasilanmu”
Surti               : “Terus terang, sudah dua kali nyonya”
Nenek             : “Nah, begitu lebih baik, apa saja?”
Surti               : “Pertama kepada suami saya”
           Ucapan Surti merupakan tindak tutur representatif menyebutkan, karena ia menyebutkan tentang kepada siapa saja ia telah berbohong pada hari ini.
e.       Tindak Tutur Representatif Menunjukkan
           Tindak tutur representatif menunjukkan adalah tindak tutur yang mengikat penuturnya atas apa yang dituturkannya dengan menggunakan tuturan yang berisi menunjukkan. Berikut adalah kutipan wacana yang berjenis tindak tutur represenatif menunjukkan.
KONTEKS : JANDA (NYONYA WENAS) SEDANG DUDUK DI RUANG TAMU, DAN DI SUGUHI MINUMAN KESUKAANYA OLEH SURTI.
Adegan 8
Janda              : “Siapa yang memilih minuman ini?”
Surti               : “Saya sendiri nyonya, kenapa?”

           Tuturan “Saya sendiri nyonya” yang dilakukan oleh surti kepada Janda dengan maksud untuk menunjukkan bahwa dia sendirilah yang berinisiatif menyuguh minuman kesukaan si Janda. Dengan demikian, kutipan wacana diatas merupakan tindak tutur representatif menunjukkan, karena diucapkan oleh Surti dengan suatu kebenaran untuk menunjukkan bahwa dirinyalah yang berinisiatif menyajikan minuman kesukaan Janda.

2.        Tindak Tutur Direktif
       Tindak ilokusi direktif merupakan dimaksudkan penuturnya agar mitra tutur melakukan tindakan yang disebutkan dalam tuturan itu. Dalam penelitian ini ditemukan lima jenis tindak ilokusi direktif yang meliputi mengajak, meminta, menyuruh, memohon, menyarankan, menantang, memaksa  dan memberikan aba-aba. Tuturan tersebut dapat dilihat pada data berikut ini.
a.       Tindak Tutur Direktif Meminta
           Tuturan meminta menimbulkan pengaruh kepada mitra tutur untuk melakukan suatu tindakan meminta, apakah itu dalam suatu perbuatan atau tuturan saja. Tuturan yang menunjukkan meminta terdapat pada data berikut.
KONTEKS  : NENEK MERAYU KAKEK AGAR MAU BERNYANYI
Adegan 3
Kakek             : “satu lagu?”
Nenek             : “Ayolah sayang, Penonton sudah tidak sabar menunggu  sang penyanyi”

Tuturan ““Ayolah sayang, Penonton sudah tidak sabar menunggu  sang penyanyi!”, dituturkan nenek kepada kakek dengan maksud untuk merayu  dan meminta kakek untuk mau menyanyi. Kutipan dialog tersebut termasuk ke dalam tindak tutur direktif meminta, karena tuturan tersebut berisi permintaan nenek kepada kakek untuk menyanyi.
b.      Tindak Tutur Direktif Mengajak
           Tuturan mengajak merupakan tuturan yang mempengaruhi mitra tutur untuk melakukan suatu tindakan. Penggalan tuturan yang menunjukkan adanya tuturan mengajak dapat dilihat pada tuturan berikut ini.
KONTEKS  : SURTI MENGAJAK MELI DAN FERI MASUK KEDALAM UNTUK MELIHAT IKAN
Adegan 16
Surti               : “Ayo kita lihat ikan kedalam”
Meli, Feri        :” Asik lihat ikan”

           Tuturan “Ayo kita lihat ikan” dituturkan oleh Surti kepada meli dan Feri dengan maksud untuk mengajak melihat ikan. Kutipan dialog tersebut termasuk ke dalam tindak tutur direktif mengajak, karena tuturan tersebut berisi ajakan yang dilakukan Surti kepada Meli Feri untuk melihat ikan.
c.       Tindak Tutur Direktif Menyuruh
           Tuturan menyuruh merupakan tuturan yang termasuk dalam tindak ilokusi direktif. Tuturan menyuruh merupakan tuturan yang menyatak tindakan. Ini dapat dijelaskan pada tuturan di bawah ini.
KONTEKS: NENEK MENYURUH SURTI MEMBAWA MASUK MINUMAN KESUKAAN JANDA
Adegan 9
Nenek             : “Surti ! Bawa minuman ini kedalam
Surti               : “Baik nyonya”

           Tuturan “Surti !! Bawa minuman ini kedalam”, dituturkan oleh nenek kepada Surti dengan maksud agar ia segera mengambil minuman kesukaan Janda, dan menggantinya dengan yang tidak disukai janda. Oleh karena itu, kutipan dialog diatas merupakan tindak tutur direktif menyuruh karena tuturan tersebut dimaksudkan nenek untuk menyuruh Surti membawa masuk minuman itu.
d.      Tindak Tutur Direktif Memohon
           Memohon merupakan suatu tuturan yang juga menyatakan untuk melakukan suatu tindakan. Penggalan tuturan tersebut ditunjukkan sebagai berikut.
KONTEKS : NENEK MENANGIS, DAN KAKEK BERUSAHA MENGHIBUR

Adegan 13
Nenek             : (tiba-tiba menagis)
Kakek             : “Diamlah, sayang. Kalau kau diam saya akan menyanyi lagi....”

           Tuturan ”Diamlah, sayang. Kalau kau diam saya akan menyanyi lagi....”diucapkan oleh Kakek dengan maksud untuk memohon pada nenek agar ia berhenti menangis. Dengan demikian, kutipan dialog diatas merupakan tindak tutur direktif memohon karena berisi permohonan atau harapan agar nenek berhenti menangis.
e.       Tindak Tutur Direktif Menyarankan
           Tindak tutur direktif menyarankan adalah tindak tutur yang dilakukan oleh penuturnya dengan maksud agar sipendengar melakukan tindakan yang disebutkan dalam tuturan yang berisi  saran dan anjuran. Tuturan berikut merupakan tindak tutur direktif menyarankan.
KONTEKS: NOVIA MENYARANKAN KAKEK UNTUK MEMBUANG KAKTUS, TUMBUHAN KESUKAAN JANDA
Novia             : “Buang saja kaktus itu pak”
Nita                : “Soalnya bukan kaktus. Soalnya itu cemburu pada nyonya Wenas.”
           Pada tuturan diatas, yang menunjukkan tindak ilokusi direktif menyarankan terdapat pada tuturan “Buang saja kaktus itu pak” maksudnya penutur menyarankan agar mitra tutur (kakek) mau membuang kaktus.
f.       Tindak Tutur Direktif Menantang
           Tindak tutur direktif menantang adalah tindak tutur yang dilakukan oleh penuturnya dengan maksud agar si pendengar melakukan tindakan yang disebutkan dalam tuturan yang berisi  tantangan. Tuturan menantang adalah tuturan yang dilakukan oleh seseorang untuk mengahadapi atau melawan orang lain. Berikut ini adalah pemaparan hasil analisis tindak tutur direktif menantang.
KONTEKS: KAKEK MENBERI PENJELASAN TENTANG KEDATANGAN JANDA PADA NENEK, TAPI NENEK TIDAK PERCAYA

Adegan 11
Nenek             : “Kau Bohong”
Kakek             : “Kalau tak percaya, kau boleh memanggil Surti”
           Tuturan ” Kalau tak percaya, kau boleh memanggil Surti” dilakukan oleh Kakek kepada nenek yang sedang marah. Kakek menantang nenek untuk membuktikan kebenaran dengan cara bertanya kepada Surti. Dengan demikian, kutipan dialog diatas merupakan tindak tutur direktif menantang, karena berisi sebuah tantangan yang  dilakukan oleh kakek kepada nenek yang tidak mempercayai ucapanya.
g.      Tindak Tutur Direktif Memaksa
           Tindak tutur direktif memaksa adalah tindak tutur yang dilakukan oleh penutur dengan maksud agar si pendengar melakukan tindakan yang disebutkan dalam tuturan yang berisi memaksa. Tuturan memaksa adalah tuturan yang dilakukan oleh seseorang dengan maksud untuk menyuruh kepada orang lain secara paksa, biasanya berkonotasi kasar. Berikut ini adalah hasil analisis tindak tutur direktif memaksa.
KONTEKS  : NENEK SESAK NAFAS KARENA KELAKUAN NOVIA
Adegan 20
Nita                : “Cepat ambilkan air dingin Surti”
Surti               : “Sebentar nyonya”

           Dituturkan oleh Nita kepada Surti yang maksudnya memaksa Surti untuk mengambilkan minuman untuk nenek.
3.        Tindak Tutur Komisif 
       Tindak ilokusi komisif merupakan tindak ilokusi yang mendorong penutur untuk melakukan sesuatu. Tindak ilokusi komisif dan direktif sama-sama digunakan untuk melaksanakan tindakan, namun dalam tindak ilokusi komisif ini penutur sendirian. Tindak  tutur komisif yang ditemukan dalam penelitin ini yaitu menawarkan, menyatakan kesanggupan, dan berjanji. Tuturan tersebut dapat dilihat pada kutipan wacana di bawah ini. 
a.       Tindak Tutur Komisif Menyatakan Kesanggupan
           Tindak tutur komisif menyatakan  kesanggupan adalah tindak tutur yang mengikat penuturnya untuk melaksanakan apa yang disebutkan di dalam tuturan yang berfungsi untuk menyatakan kesanggupan. Berikut kutipan wacana yang termasuk ke dalam tindak tutur komisif menyatakan kesanggupan.
KONTEKS : NENEK MERAYU KAKEK UNTUK MAU BERNYANYI, KEMUDIAN KAKEK MENYANGGUPINYA
Adegan 3
Kakek              : “dan sorga saya?”
Nenek              : “ mungkin tertutup”
Kakek              : “baik, saya akan menyanyi, tapi separo, kalo satu lagu nanti batuk”

           Maksud perkataan kakek yaitu menyanggupi permintaa nenek untuk bernyanyi, tapi separo lagu. Oleh karena itu, kutipan wacana dialog diatas merupakan tindak tutur komisif  menyatakan kesanggupan.
b.      Tindak Tutur Komisif Berjanji
           Tindak tutur komisif berjanji adalah tindak tutur yng mengikat penuturnya untuk melaksanakan apa yang disebutkan di dalam tuturan berjanji. Tuturan berjanji adalah tuturan yang dilakukan untuk menyatakan suatu perjanjian. Berikut adalah tuturan yang berjenis tindak tutur komisif  berjanji.
KONTEKS       :  KAKEK NENEK SEDANG BERDUAAN DAN KAKEK MEMINTA NENEK MENYANYI TAPI TIDAK MAU
Adegan 3
Nenek                : “Habis kaupun slalu mengejek setiap kali saya menyanyi”
Kakek                : “sekarang tidak, sejak sekarang saya tak akan mengejek kau lagi”

           Tuturan kakek maksudnya untuk berjanji kalau dia tak akan mengejek nenek menyanyi lagi. Oleh karena dialog ini merupakan tindak tutur komisif berjanji, karena  berisi perjanjian yang dilakukan oleh kakek kepada Nenek.
4.        Tindak Tutur Ekspresif
       Tindak tutur ilokusi ekspresif  merupakan tindak tutur yang dimaksudkan penuturnya agar ujarannya diartikan sebagai evaluasi tentang hal yang disebutkan di dalam tuturan itu. Dalam tindak ilokusi ekspresif ditemukan
tuturan mengucapkan terima kasih, mengkritik, menyalahkan, mengeluh dan memuji. Adapun tuturan tersebut dapat dilihat sebagai berikut.
a.       Tindak Tutur Ekspresif Mengucapkan Terima Kasih
            Tindak tutur ekspresif mengucapkan terima kasih adalah tindak tutur  yang dilakukan dengan maksud agar tuturannya diartikan  sebagai evaluasi tentang hal yang disebutkan di dalam tuturan yang berisi ucapan terima kasih. Berikut data tuturan ekspresif mengucapkan terima kasih.
KONTEKS  :  JANDA PAMIT
Adegan 9
Janda               : “Sayang sekali dia sedang sakit, saya harus segera pulang”
Kakek              : “ Terima kasih banyak atas kunjungan nyonya”
            Kakek mengucapkan terima kasih kepada janda yang telah berkunjung ke rumah.
b.      Tindak Tutur Ekspreif Menyalahkan
           Tindak tutur ekspresif menyalahkan adalah tindak tutur yang dilakukan dengan maksud agar tuturannya diartikan sebagai evaluasi tentang hal yang disebutkan di dalam tuturan  yang berisi menyalahkan. Tuturan menyalahkan adalah tuturan yang digunakan untuk menyatakan (memandang, menganggap) salah pada seseorang. Berikut ini merupakan tindak tutur ekspresif menyalahkan.
KONTEKS : KAKEK TERTAWA KARENA KURANG PERHATIAN
Adegan 3
Kakek             : (Tertawa) saya baru ingat sekarang
Nenek             : “Selalu kau begitu, selalu kau tak pernah ambil pusing setiap kali saya sakit”

Nenek menyalahkan kakek karena kurang perhatian.
c.       Tindak Tutur Ekspresif Mengeluh
           Tindak tutur ekspresif mengeluh adalah tindak tutur yang dilakukan dengan maksud agar tuturannya diartikan sebagai evaluasi tentang hal yang disebutkan di dalam tuturan mengeluh. Tuturan mengeluh adalah tuturan yang dilakukan untuk menyatakan susah karena penderitaan, kesakitan, kekecewaan. Tuturan berikut merupakan tindak tutur ekpresif mengeluh.
KONTEKS:  NENEK TIDAK LULUH MENDENGAR RAYUAN KAKEK
Adegan 13
Kakek                   : “Tuhan, kepala saya cuma satu dan puyeng, kalau saja saya punya tiga kepala, tentu saya tau apa yang harus saya lakukan agar kau diam”

d.      Tindak Tutur Ekspresif Memuji
                       Tindak tutur ekspresif memuji adalah tindak tutur yang dilakukan dengan maksud agar tuturannya diartikan sebagai evaluasi tentang hal yang disebutkan dalam tuturan yang berisi pujian. Tuturan memuji adalah tuturan yang digunakan untuk melahirkan suatu penghargaan kepada sesuatu yang dianggap baik, indah, gagah, berani, dan sebagainya. Berikut adalah pemaparan hasil analisis tindak tutur ekspresif memuji.
KONTEKS : KAKEK DAN NENEK BERMESRAAN
Nenek             : “Kau sudah terlalu pintar berciuman ketika pertama kali mencium saya”
Kakek             : “Saya memang pintar berkhayal, setiap kali saya menonto, saya selalu membayangkan adegan ciuman dengan amat terperinci”

5.        Tindak Tutur Isbati Melarang
       Tindak tutur isbati melarang adalah tindak tutur yang dilakukan sipenutur dengan maksud untuk menciptakan hal (status, keadaan, dan sebagainya) yang baru dengan menggunakan tuturan yang berisi larangan.
Tuturan melarang adalah tuturan yang dilakukan untuk memerintahkan supaya tidak melakukan sesuatu. Tuturan berikut merupakan tindak tutur isbati melarang.
KONTEKS : KAKEK SEDANG MENASIHATI NOVIA
Adegan 18
Kakek       : “Kau jangan berkata begitu”

       Dituturkan oleh kakek terhadap novia, yang isinya melarang Novia untuk bertindak seperti itu.


SIMPULAN
Berdasarkan analisis peneltian ini ditemukan jenis dan fungsi tindak tutur ilokusi dalam pementasan drama yang berjudul “Pada Suatu Hari”. Hal ini menunjukkan bahwa peristiwa tindak tutur selalu terjadi pada setiap aktifitas komunikasi/ aktifitas berbahasa yang dilakukan oleh setiap masyarakat.
 Jenis tindak tutur ilokusi yang ditemukan terdiri atas lima jenis tindak tutur yaitu tindak tutur representatif meliputi menyatakan, mengakui, melaporkan, menyebutkan,  dan  menunjukkan. Tindak tutur direktif meliputi mengajak, meminta, menyuruh, memohon, menyarankan, menantang, memaksa,  dan memberikan aba-aba. Tindak tutur komisif meliputi menawarkan, menyatakan kesanggupan, dan berjanji. Tindak tutur ekspresif meliputi mengucapkan terima kasih, mengkritik, menyalahkan, mengeluh, dan memuji, serta tindak tutur isbati meliputi tindak tutur isbati melarang.

SARAN
Dari hasil penelitian ini disarankan:
1.        Pemakai bahasa hendaknya menggunakan tuturan sesuai dengan pernyataan terutama pernyataan tindak ilokusi sehingga maksud yang disampaikan dapat dimengerti oleh banyak pihak. 
2.        Peneliti tindak ilokusi yang akan melakukan penelitian hendaknya memfokuskan pada tindak ilokusi dengan objek penelitian yang berbeda.
3.        Para pembaca yang tertarik dengan  kajian pragmatik, khususnya dalam mempelajari tindak tutur ilokusi agar mendalami jenis tindak tutur ilokusi yang terbagi dalam kategori yang terdapat pada tindak tutur ilokusi. 
4.        Hasil penelitian ini diharapkan dapat dijadikan sebagai bahan acuan untuk penelitian selanjutnya terutama yang berhubungan dengan tindak tutur ilokusi.

DAFTAR PUSTAKA
I Dewa Putu Wijaya, M. Rohmadi. 2011. Analisis Wacana Pragmatik Kajian Teori dan Analisis. Surakarta : Yuma Pustaka.
Imron Rosidi. 2009. Bentuk Implikatur  Dalam Kegiatan Transaksi  Di Koperasi Siswa Smkn Kota Pasuruanhttp: //guru umarbakri.blogspot.com/2009/06/ilmu-bahasa.html. (diakses pada 30 April 2011 pukul 21.00).
Nelly Yani BP. 2007. Tindak Tutur Ilokusi Dalam Wacana Komik Di Majalah Annida (Skripsi). Semarang
Wijana, I Dewa Putu. 1996. Dasar-dasar Pragmatik. Yogyakarta : Andi Offset.





Muhammad Bagus Priyo Sambodo, k1208031, Lahir di Magelang, 7 Februari 1990. Saat ini tinggal di Sumber Ketandan Rt:19/06 Secang, Magelang. Riwayat Pendidikan: SD Negeri Secang 2/4 (2002), kemudian melanjutkan di SMP N 1 Secang (lulus 2005), dan SMA di SMA N 2 Magelang (lulus 2008). Saat ini sedang menyelesaikan program S1 Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia di UNS Surakarta. Email: piyo_b@rocketmail.com. HP: 08995259506. “Allahu Akbar !!”